BMWCCI Kediri Chapter membuka 2019.

Arisan dan family gathering.

Gebrakan awal tahun 2019 BMWCCI Kediri Chapter adalah meluncurkan sayap Bimmernita Kedirian dengan dasar pemikiran di atas.

Gebrakan ini diwujudkan dengan langkah aksi pembukaan arisan emak-emak Bimmernita Kedirian untuk putaran 2019-2020, total perlu 16 bulan lamanya hingga putaran ini berakhir.

Putaran pertama arisan ini digelar akhir Januari kemarin, tepatnya hari Minggu tanggal 27 Januari 2019 di area car free day (CFD) di kawasan Tugu Monumen Simpang Lima Gumul, Kediri. Gelaran putaran pertama ini sekaligus dan sekalian diwujudkan menjadi ajang family-gathering.

Selain kocokan arisan tentunya, kegiatan hanya diisi dengan keseruan, keseruan, dan keseruan.

Berfoto bersama di depan tulisan besar “Kediri Lagi”, branding pariwisata Kabupaten Kediri itu saja ternyata juga cukup memerlukan strategi tersendiri untuk menembus antrian massa yang kesemuanya ingin berfoto di depan tulisan besar itu.

Belum lagi mengawasi dan mengarahkan anak-anak yang dari bawaannya pingin berlarian ke sana kemari, itu juga perlu kewaspadaan tersendiri bagi para orang tua. Namun itu semua intinya hanya satu: seru!

Belum lagi saat bapak-bapak menghilang sendiri untuk menggelar lomba dadakan: melukis lukisan anak-anak!

Semua pengunjung CFD yang lewat banyak yang tertawa atau minimal cekikikan melihat ulah iseng bapak-bapak yang padahal masa kecilnya sudah bahagia ini, karena sempat merasakan mandi di kali dan main layang-layang serta mencari jangkrik di sawah.

Perlombaan melukis ini penuh diwarnai ketegangan serta persaingan sengit untuk mempertahankan gengsi, nama besar, dan pertaruhan jati diri. Setelah satu jam lamanya, kemenangan dan gelar juara akhirnya disabet oleh Mas Sugeng Ariadi (AG012) dengan runner-up mas Ardian Satriyadi (AG005). Keputusan juri yakni mas tukang jualan lembar lukisannya bersifat mutlak dan enggak dapat diganggu gugat. 😀

Berkumpul itu adalah hal yang sederhana. Namun menetapkan waktu janjian bisa berkumpul bersama agar semuanya bisa datang di antara kesibukan masing-masing yang begitu beragam, ini ternyata sudah perkara pelik tersendiri. Dan di sinilah emak-emak dengan sukses mengatasi tantangan ini.

Lebay?

Mungkin tampak iya bagi yang tidak menjalaninya. Namun ini menjadi tantangan tersendiri, yang sekali lagi bolehlah dikatakan sepele, namun ternyata tetap memerlukan kesatuan dan kebersamaan hati untuk mewujudkan kebersamaan fisik.

Dan persoalan “sepele” yang melibatkan keluarga ini, niscaya bakal amburadul jika bapak-bapak yang ngurusi. 😀

Leave a Reply